Nyentil Asy’ariyah dan Mu’tazilah

27 02 2013

25 Mei 2912

 

ada fenomena sederhana tetapi menarik

 

pertama,

untuk kedua kali GusPur brenti di tempat istirahat Temerloh

posisi hampir di tengah antara Kuala Lumpur dan Kuantan yang berjarak 250an km

Temerloh di tengah

istirahat untuk shalat maghrib-isya dan makan malam

 

orangg dengan penampilan biasa

menjadi imam shalat dengan bacaan yang fasih

usai shalat mimpin doa panjang

lalu saling berjabat tangan

 

karena sempat batal dan hujan

GusPur sempat ngamati perilaku para musafir itu

 

di Indonesia,

yang tampil sebagai imam biasanya pakai baju koko

bacaan pun sering kurang menenangkan jamaah alias kurang fasih

yang baju biasa, umumnya tak punya bekal memadai untuk jadi imam shalat

usai shalat semburat

 

dalam agama pun

di Indonesia telah ada kelas

kelas baju koko dan kelas baju biasa

dengan kualitas pemahaman dan bacaan al-Quran yang cukup senjang

 

dua kali perjalanan

GusPur dianter dua sopir universitas

praktek keagamaan kedua sopir tersebut, subhanallah

mereka seperti orang yang baru keluar dari traning Islam

spontan dengan praktek keagamaannya tanpa ba bi bu

wudhu, lalu gabung berjamaah shalat

dan jamak qashar

 

pemahaman keagamaan mereka seolah standar

artinya,

sistem yang memahamkan mereka telah berjalan

 

fenomena lain

di masjid Ahmad Shah IIUM Kuantan

masjid yang baru digunakan sekitar 2 bulan lalu

GusPur masuk masjid untuk Jumatan

ternyata masih ada orang presentasi lengkap dengan power point

dan layar besar di bagian depan masjid

tak juga selesai

kapan mulai Jumatannya, demikian pikir GusPur

 

karena presentasi tak juga selesai, GusPur keluar masuk masjid

lGusPur cari cara agar tas berisi netbook yang dititipkan di kantor TU Fakultas Sains diambil dan dibawa ke masjid

ba’da Jumatan GusPur khan presentasi AAS

ketika keluar kedua kalinya dan masuk lagi

orang bersurban yang presentasi di mimbar atas duduk lalu berdiri lagi

Subhanallah

ternyata presentasi itu adalah khutbah Jumat

 

inilah khutbah Jumat pertama yang GusPur ikuti

dan menggunakan power point

sekali lagi

khutbah Jumat memanfaatkan LCD power point

 

upf,

ndeso sekali GusPur itu

gumunan,

lihat khutbah Jumat pakai laptop dan LCD terperangah

 

Ahad 27 Mei 2012

 

ini bukan laporan isi forum AAS yang berlangsung tiga kali lebih panjang dari rencana semula

rencana 30 menit tetapi menjadi satu setengah jam

bahan yang dibahas ada 7 point

insya Allah laporan materi nyusul

 

sekarang reportase isi bab dua

salah satu panelis adalah dosen teknik IIUM

yang sebenarnya orang fisika juga

sejak pagi sampai tatkala makan malam di hotel Zenith

hotel baru buka 2 bulan dan paling luks di Kuantan

Prof Torlah banyak membahas masalah fikih 4 mazhab

diimbangin dengan staf yuniornya Dr Jesni

tentu lebih semarak dengan dua staf dari Sudan

 

tak dapat saya pungkiri, saya kagim dan bertanyaa bagaimana mungkin kedua orang fisika melayu ini fasih bicara fikih …

ah,

jadi ada semacam benang merah dengan orang biasa yang fasih ngimami dan mimpin doa

doktor dan profesornya fasih pengetahuan agama yang lebih formal

 

sabtu tengah malam jelang dini hari ahad

sambil koreksi Nalar AAS

GusPur ngidupkan tivi

pas acara Ustadz Menjawab

 

pertanyaan bagaimana akademisi non-agama fasih bicara tentang fikih 4 mazhab sedikit terjawab

sang ustadz yang masih muda berbicara tentang fikih dan kalam

sang ustadz menjelaskan secara lugas tetapi tetap dalam bingkai akademis

bagaimana sesungguhnya mu’tazilah dalam fikih

bagaimana perbedaan pandangan imam syafii dari tiga imam mazhab yang lain,

dan seterusnya

 

jika tayangan ini dilakukan secara rutin niscaya pemahaman umat akan meningkat

agama bukan sekedar lucuu-an, ketawa-ketiwi, atau menampilkan public figure tetapi sejatinya minimal sekali pengetahuan agamanya

tokoh  publik yang pengetahuan agamanya hanya sebatas common sense

jika tayangan agama sedikit formal disampaikan secara rutin

maka akademisi yang tertarik dan menonton akan sampai juga pada pemahaman seperti yang dimiliki oleh dua dosen fisika IIUM di depan

dengan kata lain pemahaman dan pengetahuan formal agama masyarakat pun meningkat

 

pengetahuan sejarah kita bukan sekedar sejarah musashi, jengis khan, atau columbus

tetapi juga masa kecil imam syafii, imam abu hanifah, imam malik, imam hambali bahkan imam ja’far

juga tahu sejarah remaja abu hasal al-asy’ari sebelum nyempal dari washil bin atho’ sang pendiri mu’tazilah

juga syekh abdul kadir jaelani

dengan ajarann-nya

sehingga umat bisa bedakan antara ahlus sunnah dan ahlus sunnah wal jamaah

and so on and so on

 

pemahaman keagamaan umat akan meningkat

 

masih 27 Mei 2012

 

— On Sun, 5/27/12, Anwari WMK <anwari_kpj@yahoo.com> wrote:
> Hidupkan saja obor Mu’tazilah.

 

Jumat 18 Mei 2012 GusPur pergi ke toko buku Kinokuniya di KLCC

banyak buku bagus yang seharusnya GusPur beli dan baca

tetapi waktu itu hanya beli enam buku,

 

yang menarik adalah sang pramuniaga

selain berpakaian rapi dia juga tinggi dan handsome atau comel istilah melayunya

tapi itu belum seberapa menarik

karena kemudian sang pramuniaga ini berkata itu buku bagus terus beri sedikit penjelasan bagian bagusnya

“weh, pramuniaga ini sempat baca bukuu yang dijaganya”, pikir GusPur

“tapi bagaimana baca bukunya, buku khan masih tersegel dalam kemasan plastik dan tidak ada satupun yang terbuka seperti di tokoo di Indonesia?”

lebih mengagetkan lagi ketika sang pramuniaga juga singgung “buku berat”

islamic science, GusPur lupa judulnya apa

tapi menurutnya, buku itu berbau mu’tazilah

“busyet, pramuniaga ini kok tahu juga mu’tazilah”, GusPur makin penasaran

sopir IIUM yang nganter GusPur juga ikut nimbrung ngobrol dengan sang pramuniaga

dia cerita kalau GusPur juga menulis buku

eh sang pramuniaga langsung menyambar dengan pertanyaan

“tuan tulis buku tentang apa?”

 

pembicaraan pun berkembang termasuk bagaimana cara medapatkan member card yang memungkinkan memperoleh diskon harga buku

omongg ternyata sang pramuniaga hanya kerja sambilan part time

dia ternyata mahasiswa pasca kulliyah pertubatan atau kalau di Indonesia adalah mahasiswa fakultas kedokteran

pantesan dia nyambung dengan mu’tazilah

dan beri warning lagi

“itu berbau mu’tazilah”

27 Mei 2012

 

> Baunya Mu’tazilah wangi ya . . . .hehehe

 

terlalu wangi,

sebagian orang tidak tahan dengan aromanya

maka disintesa saja Mu’tazilah dan Asy’ariyah dalam Nalar AAS

insya Allah, cocok bagi semua kalangan

 

28 Mei 2012

 

— On Mon, 5/28/12, Anwari WMK <anwari_kpj@yahoo.com> wrote:
> Sebaiknya tinggalkan saja tuh Ashariyah.

di fisika,

Asy’ariyah efektif di dunia mikro, sedangkan mu’tazilah di dunia makro

asy’ariyah ibarat teori kuantum, sedangkan mu’tazilah newtonian

 

jadi keduanya efektif di wilayahnya

maka jangan dibuang salah satunya

digabung saja

dalam Nalar AAS

 

28 Mei 2012

 

— On Mon, 5/28/12, Anwari WMK <anwari_kpj@yahoo.com> wrote:

>

> Ooh gitu yah? Ya sudah saya dukung . . . . .wkwkwkwk

Encik Anwari,

sampeyan itu bagaimana?

sampeyan lak mengagumi Abu Bakar al-Baqillani pencetus teori atom islam yang komprehensif,

sampek anak sampeyan nomor tiga dibaptis pakai namanya, Baqillani

lha Baqillani itu pengikut Asy’ariyah …

kok sampeyan mau buang Asy’ariyah

 

tak lah …

 


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: