Bedah AAS Ramadhan V

19 09 2008

Kamis, 18 September 2008
Jam 13.00 – buka bersama
Jurusan Fisika Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Malang
Pembahas: Dr. Sa’ad Ibrahim, MA.

Acara mestinya dimulai jam 13.00 tetapi karena bus patas Surabaya-Malang
tertahan macet di kawasan Lapindo Porong maka Gus Pur baru tiba di lokasi
jam 13.20 dan acara dimulai jam 13.40. Acara sendiri berlangsung di lantai
4 gedung baru Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri
Malang.
Agus Mulyono, S.Si. membacakan biodata penulis buku dan pembahas lalu
segera mempersilahkan penulis AAS menyampaikan presentasinya. Seperti
biasa presentasi berlangsung sekitar 75 menit dan dilanjutkan pembahasan
oleh Dr.M.Saad Ibrahim, MA. yang tidak lain adalah wakil rektor bidang
kersama UIN Malang. Poinn utama pembahasan Dr Saad dituangkan dalam
tulisan 4 halam dengan judul Menimang Buku Ayat-Ayat Semesta: Apresiasi
dan Kritik. Isi tulisan ditampilkan lengkap sebagai berikut:

Bismillahirrahmanirrahim
1. Tafsir al-Quran memiliki tiga kategori struktural, sebagai: a).
penjelas makna; b). upaya eksplorisasi paradigma; dan c). upaya penggalian
hikmah filosofisnya. Dalam hal ini, Buku Ayat-ayat Semesta (BAAS), lebih
banyak berorientasi pada kategori sebagai penjelas makna, dari pada
sebagai upaya eksplorasi paradigma, dan penggalian hikmah filosofis
al-Quran.
2. Salah satu metode tafsir ialah tafsir dengan memanfaatkan ilmu
pengetahuan baik secara substansial maupun metodologis, yang dalam hal ini
memiliki dua kategori: a). menafsirkan al-Quran dengan menggunakan
temuan-temuan penelitian ilmiyah, yang kemudian dikenal dengan al-tafsir
bi al-’ilm; dan b). menafsirkan dengan menggunakan metode ilmiah
positifistik, yakni manafsirkan secara rasional, dan kemudian membuktikan
secara empiris, suatu tafsir yang dikenal dengan sebutan al-tafsir
al-’ilmiy.Berdasarkan kategori ini, BAAS masuk (lebih manyak) pada
kategori pertama.
3. Terhadap al-tafsir bi al-’ilm, sering diajukan keberatan sebagai
semata-mata mencari legitimasi terhadap ayat-ayat al-Quran, dan lebih
serius lagi sebagai tindakan validisasi al-Quran yang kebenarannya absolut
dengan ilmu pengetahuan yang kebenarannya relatif, atau setidak-tidaknya
probabilitas.
4. Terhadap al-tafsir al-’ilmiy juga berlaku hal yang sama, tetapi tidak
sekeras keberatan di atas. Hal ini tampaknya disebabkan terbukanya
pembuktian secara empiris tersebut secara terus menerus, tidak dibatasi
oleh suatu penemuan ilmiah di suatu kurun waktu tertentu.
5. Terhadap keberatan-keberatan tersebut dapat dinyatakan bahwa mengingat
segala penafsiran al-Quran yang dilakukan manusia merupakan upaya yang
dibatasi oleh berbagai keterbatasan manusiawinya, maka tafsir tersebut
juga bersifat terbatas, yang oleh karena itu kebenarannya tidak absolut,
sebagaimana keabsolutan kebenaran al-Quran itu sendiri. Jadi dalam hal
ini, bukan kemudian memvalidisasi al-Quran dengan ilmu pengetahuan, tetapi
memvalidisasi penafsirannya semata, yang jika dikemudian hari ternyata
salah, maka kesalahan tersebut tertuju pada penafsirannya, bukan pada
al-Quran.
6. Penafsiran terhadap al-Quran menghasilkan muatan-muatan secara
bertingkat-tingkat, ada yang primer, sekunder, tersier dan seterusnya.
Semakin tinggi tingkatan muatannya, semakin mudah dipahami, sebaliknya
semakin rendah tingkatannya semakin rumit pemahamannya. BAAS lebih banyak
mengambil porsi pada kerumitan ini, yang tentu saja tidak bisa dilakukan
oleh semua orang.
7. Oleh karena muatan ayat-ayat al-Quran itu begitu amat luas, maka dapat
dipastikan setiap ayat menuntut keahlian tertentu untuk dapat memahami
dengan baik. Dengan demikian, disamping terdapat syarat-syarat umum untuk
memahaminya, seperti penguasaan bahasa Arab, masih diperlukan
syarat-syarat khusus, misalnya jika suatu ayat bermuatan tentang
astrofisika, maka penguasaan disiplin ilmu ini mutlak diperlukan oleh
seorang mufassir.
8. Ke depan sudah harus dipikirkan upaya menafsirkan ayat-ayat al-Quran
secara kolektif sesuai dengan karakteristik setiap ayat yang akan
ditafsirkan.
9. Sekalipun BAAS telah menafsirkan ayat-ayat tentang semesta ini dengan
baik, tetap harus diyakini, bahwa muatan ayat-ayat tersebut masih sebagian
kecil saja yang terjelaskan dan tereksplorasi melalui buku ini. .
10. Terhadap BAAS, apresiasi dan reward telah diberikan banyak orang,
melalui komentar-komentar mereka, bahkan juga terdapat wawancara ekslusif
oleh beberapa majalah, misalnya majalah Gontor, dan Matan. Disini hal yang
sama juga diberikan. Sekalipuin demikian, tampaknya perlu diberikan
catatan-catatan khusus pada BAAS ini.
11. Catatan khususnya ialah:
• Kurang memanfaatkan kitab-kitab tafsir dan yang sejenis, khususnya
kitab-kitab terbaru, sekedar menyebut misalnya al-Mizan karya menomenal
Thabathaba’iy, Kasyf al-Asrar al-Nuraniyyah al-Qur’aniyyah fi ma
Yata’allaq bi al-Ajram al-Samawiyyah, wa al-Ardliyyah, wa al-Hayawanat, wa
al-Nabatat, wa al-Jawahir al-Ma’daniyyah oleh Muhammad bin Ahmad
al-Iskandaraniy, Thaba`i’ al-Istibdad wa Mashari’ al-Isti’bad oleh Abd
al-Rahman al-Kawakibiy, al-Islam wa al-Thibb al-Hadits karya seoraang
dokter terkenal bernama Abd al-’Aziz`Isma’il, dll.
• Muncul kesan dari BAAS adanya nada minor terhadap disiplin fiqh (hal 24)
tetapi sekaligus ada kesan bahwa disiplin ini diperlukan, (hal.250).
Tampaknya akan lebih fair, jika dibiarkan saja orang mengambil peran
keilmuan dan keislamannya sesuai dengan minatnya, sebab masing-masing
telah memberikan sumbangan bagi kemashlahatan ummat. Lebih baik lagi jika
ada kerjasama antar disiplin ilmu tersebut, dengan prinsip saling
menghargai dan saling memahami posisi masing-masing, dalam hal ini terasa
sejuk membaca usulan BAAS (hal. 282) tentang perlunya duduk bersama antara
ilmuan astrofisika muslim dan ahli fikih membicarakan kalender qamariyah.
• Klasifikasi ayat-ayat tentang alam semesta, tidak memasukkan misalnya
ayat 1 (atau 2 bagi mereka yang memandang ayat pertamanya Bismillah …)
surat al-Fatihah, dengan alasan ayat tersebut tidak memberi informasi apa
pun tentang alam semesta, tampaknya perlu dipikirkan kembali, justru ayat
ini memberi informasi kunci dan transendental bahwa Allah adalah pencipta
dan pemelihara alam semesta, yang dengan demikian paradigma darwinisme
mesti ditolak tentang dominasi kebetulan eksistensi, termasuk alam semesta
ini.
• Ketika mengkaji sains Islam (hal. 187) didapati pernyataan bahwa: Sains
adalah produk manusia …… Pernyataan demikian berbeda dengan ahli fiqh
yang selalu menyatakan bahwa ijtihad itu bukan menciptakan hukum, tetapi
menemukannya. Implikasinya pernyataan di atas adalah sekuler, karena
mengatakan bahwa produsen sains adalah manusia. Kelihatannya dalam hal ini
diperlukan kehati-hatian, sebab sebenarnya sains itu bukan ciptaan
manusia, hukum tentang gravitasi bukan ciptaan Einstein, hukum itu sudah
ada sebelum Einstein ada. Ia hanya menemukan hukum tersebut, penciptanya
adalah Allah! Syukurlah kemudian pada hal 407 ditemukan pernyataan: Kita
yakin, semua ilmu yang telah digali manusia masih belum seberapa dibanding
dengan yang belum digali. Suatu pernyataan yang mengisyaratkan bahwa
manusia sekedar penggali, bukan pencipta.
• Tampaknya seperti buku-buku yang lain, BAAS pun belum berhasil
memberikan jawaban bagaimana struktur alam semesta ini. Bagaikan bola yang
galaksi-galaksi terletak di dalamnya, yang kulit bolanya merupakan langit
pertama, kemudian di luarnya ada lapisan-lapisan yang merupakan alam
ghaib mulai langit kedua sampai langit ke tujuh? Termasuk alam ghaib itu
sorga, sidratul muntaha, dan arsy Allah yang berada di langit ke tujuh,
sebagai alam ghaib tertinggi?
Di luar yang tertulis, Dr Saad banyak menyinggung hal menarik lainnya,
salah satu di antaranya adalah pengertian ulama. Di dalam setiap rawi
hadis al-ulamau waratsatu al-anbiya terdapat nama Qois bin Katsir yang
dilemahkan oleh semua ahli hadis sehingga hadis terkenal ini sebenarnya
adalah hadis dhaif. Pengertian ulama semestinya cukup mengacu pengertian
dan definisi surat al-Fathir 27-29. Ulama adalah mereka yang memahami
fenomena alam, fenomena sosial dan dalam perenungannya sampai pada
kesimpulan eksistensi the greatest creator. Ulama juga memahami kitab,
menegakkan shalat dan menafkahkan rezeki mereka.
Penulis perlu memberi sedikit komentar balik khususnya poin terakhir. AAS
memang tidak sedang membangun struktur alam semesta. AAS melakukan hal
sederhana yang sebenarnya dapat dilakukan oleh semua orang tetapi tidak
dilakukan yakni kompilasi dan klasifikasi ayatt kauniyah. Muatan ini
memungkinkan AAS menjadi buku yang bertahan lama bahkan sangat mungkin
tetap relevan setiap jaman sebagaimana ihya ulumuddin karya al-Ghazali.
Muatan lainnya adalah gagasan islamisasi sains sampai tataran operasional
dengan contohh kongkrit sebagai agenda ilmuwan muslim tiga empat dasawarsa
mendatang.
Acara yang dikemas Bedah Buku dan Buka Bersama ini juga dilengkapi dengan
bazar AAS dengan harga khusus. Seperti biasa, peserta minta tanda-tangan
untuk buku AAS yang mereka punya.


Aksi

Information

One response

30 10 2008
Anjar Nugroho

Assalamualaikum…
Numpang lewat, Kang, salam untuk panjenengan dan kawan2 di Surabaya.
Wassalamualaikum…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: