Bedah AAS Ramadhan IV

19 09 2008

Selasa, 16 September 2008
Jam 08.00-12.00
Jurusan Fisika Universitas Diponegoro Semarang

Acara dilangsungkan di lantai 3 dekanat FMIPA dan dimulai jam 08.10 dengan
pembacaan kalam ilahi oleh mahasiswa. Selanjutnya, sambutan berturutt oleh
ketua panitia dari Keluarga Mahasiswa Islam Fisika (Kasifa), ketua jurusan
Fisika dan Pembantu Dekan III FMIPA. Setelah sambutan yang sekaligus
pembukaan oleh PD III acara diisi nasyid oleh mahasiswa. Acara Bedah
Bukunya sendiri baru dimulai jam 09.30. Artinya, acara lainn selain acara
inti berlangsung hampir 90 menit.
Setelah dipersilahkan oleh moderator, penulis AAS Agus Purwanto presentasi
seperti biasanya selama 75 menit. Di dalam presentasinya Gus Pur
menyatakan bahwa Ilmuwan muslim adalah ilmuwan plus yakni doktor muslim
plus kemampuan bahasa Arab, memahami sejarah islam dan sejarah pemikiran
atau filsafat. Pemahaman pada filsafat memungkinkan seorang ilmuwan
mengetahui kekacauan pondasi sains modern. Gus Pur juga menegaskan bahwa
Al-Qur’an harus dihidupkan kembali dan kedepan dijadikan pijakan bangunan
sains sehingga lahir sains post-positivistik yakni sains islam. Masalah
terberatnya, jalan ilmu adalah jalan sunyi yang jauh dari publisitas dan
tepuk tangan serta tidak dihargai dengan memadai itulah sebabnya tidak
banyak pelajar melanjutkan ke bidang sains dasar.
Prof Wahyu Budiono, guru besar fisika Undip yang bertindak sebagai
pembahas pertama bercerita tentang kemungkinan menafsirkan laser dengan
cahaya di atas cahaya dalam surat an-Nur dengan kyainya. Prof Wahyu
menguatkan sindirann Gus Pur dan menyebutkan bahwa sifat ummat terbaik
bagi ummat islam sebagaimana disebutkan dalam surat al-Imran 110 masih
berupa potensi belum aktus. Selebihnya, beliau mengajukan tiga pertanyaan.
Pertama, dalam upaya mengintegrasikan sains dan agama UIN telah mendirikan
Fakultas Sains dan Teknologi, maka bagaimana upaya kita di PT non-UIN
untuk upaya integrasi ini. Kedua, mengapa orang Barat yang masuk islam
kebanyakan adalah orang berilmu. Ketiga, bagaimana seharusnya ICMI?
Pembahas selanjutnya adalah Dr Muhammad Nur, doktor pertama jurusan fisika
Undip dan ahli plasma. Dr Nur menyoroti beberapa pembahasan dalam buku AAS
yang masih menggantung dan belum mengindikasikan pada fenomena dan ulasan
ilmiah. Juga diusulkan agar setiap ayat dalam klasifikasi diberi bahasan
ringkas. Dr Nur menyebutkan bahwa pengambil-alihan sains harus dilakukan
melalui gerakan kafah dan kompak, tidak terpusat di Jakarta karena ibu
kota telah sumpek. Bintang ada di manaa, demikian ungkapan Dr Nur
mengungkap bahwa orang berbakat tidak hanya ada di Jakarta meski yang
ditampilkan di media hanya yang di Jakarta. Dr. Nur juga bercerita
pengalamannya mendapat nilai terbaik dalam kuliah plasma karena beliau
sangat serius setelah terinspirasi ayat langit bagai cairan perak dalam
surat Ma’arij 8.
Peserta yang umumnya mahasiswa juga mendapat kesempatan protes dan
bertanya. Pertanyaann tersebut di antaranya adalah bagaimana agar
al-Qur’an menjadi sumber inspirasi, bagaimana tips mudah belajar
nahwu-sharaf, apa kriteria ilmuwan muslim dan bagaimana karakter hukum
alam dan penggunaan ungkapan insya Allah.
Jawabab atas pertanyaann dapat disarikan sebagai berikut.
1. Akademisi di PT non-UIN bisa memulai integrasi dengan melengkapi diri
bahasa Arab dan filsafat, dan lebih mudah karena sainsnya sudah terkuasai.
2. Ilmuwan terus berfikir, maka bila ujung dari ciptaan adalah ketiadaan
maka akan melahirkan absurditas yang hanya bisa diatasi melalui
kepura-puraan atau pelarian misalnya minum sampai mabuk sedangkan yang
tidak suka mabuk akan lari pada agama di antaranya Islam.
3. ICMI memang masih terserett oleh kecenderungan Indonesia, beramaii
dalam hingar bingar politik kurang memperlihatkan kelasnya sebagai kaum
cerdik-pandai. ICMI harus memotret dan menata ulang siapa dirinya, mau apa
dan bagaimana. Sekarag ini wujudu ICMI kaadamihi, adanya ICMI sama dengan
tidak adanya.
4. Bahasan menggantung adalah kesengajaan dan keterpaksaan karena memang
AAS inginnya sekedar pemicu untuk kerja lebih besar bukan uraian tuntas
dalam contohhnya kecuali pondasi filosofis sains islamnya.
5. Terimakasih atas gagasan uraian singkat per ayat, jelas ini harus dalam
buku tersendiri bahkan berjilidd.
6. Agar al-Qur’an menjadi inspirasi maka perlu sambi dicerna kata demi
kata khususnya teks asli dalam bahasa Arabnya ketika membacanya. Jadi
tidak cukup dengan membaca cepat.
7. Ada beberapa buku nahwu-sharaf yang cocok untuk mahasiswa di antaranya
adalah Metoda Hikari: Arab Gundul Siapa takut? tulisan saya yang sekarang
sedang saya revisi agar benarr bisa jadi pegangan untuk otodidak.
8. Dua tambah dua pasti empat, jangan katakan dua tambah dua insya Allah
empat. Ungkapan kedua ini kelihatan relijius tapi bisa jadi punya bakat
jadi koruptor sehingga tidak yakin kalau dua tambah dua pasti empat karena
akan ada bagian yang dikorup.
9. Ilmuwan muslim, pertama harus ilmuwan dulu formalnya ya doktor karena
gelar ini merupakan pengakuan bahwa si pemilik gelar dipandang dapat
melakukan riset mandiri. Selanjutnya, melengkapi diri dengan beberapa
perangkat seperti bahasa Arab, sejarah islam dan sejarah pemikiran
sehingga tahu peta pemikiran yang pernah berkembang dala sejarah umat
manusia dan pada akhirnya tahu penyimpangann setiap pemikiran.
Terakhir ada peserta yang usul agar buku AAS dilengkapi dengan glosary.
Usulan yang bagus agar AAS bisa dipahami khalayak lebih luas bukan hanya
orang ipa. Seperti bedah buku di tempatt lain sebelumnya, di undip juga
diadakan bazar buku AAS dan para peserta antre tanda tangan dari penulis
AAS.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: