AAS Masuk Kampung

19 08 2008

Minggu,17 Agustus 2008.
Jam 06.30-08.10.
Muhammadiyah Ranting Bagong-Ngagel, Surabaya.

Ayat-Ayat Semesta tidak hanya diminati dan masuk kampus seperti ITB, IPB, ITS, Universitas Muhammadiyah dan lainnya. AAS juga masuk ponpes dan segera masuk UIN. Semua ini berita biasa karena AAS berisi bahasan al-Qur’an dalam perspektif filsafat dan sains islam sehingga yang minat dulu adalah merekaa yang masuk kategori high-intellectual.

17 Agustus 2008, ketika sebagian orang Indonesia terlibat dalam kegiatan upacara memperingati HUTRI ke-63 jamaah kajian ahad pagi Muhammadiyah Ranting Bagong Cabang Ngagel Surabaya malah asyik mansyuk menyimak uraian AAS langsung dari penulisnya. Ketika sebagian jamaah nyruput teh manis dan menikmati kue wajik sebagian peserta memberondong nara sumber dengan pertanyaann.

Salah satu pertanyaan datang dari seorang ibu, apa ada relasi antara agama dan ilmu pengetahuan. Apakah keduanya tidak terpisah? Jawabnya, ilmu dan agama mestinya tidak terpisah. Bila kita meyakini bahwa Allah itu Ahad berarti yang nurunkan agama dan nurunkan ilmu adalah sama yaitu Allah. Ketika kita mempelajari fisika misalnya tentang penciptaan atom dan alam semesta secara umum berarti sebenarnya kita sedang memahami policy Allah dalam tatanan alam semesta ini. Ini khan agama, ada Allah-nya. Supaya tidak kelihatan terpisah, mata pelajaran agama ditiadakan dan diganti saja. Misalnya, diganti pelajaran Fikih dan Akhlak, atau Sejarah Islam.

Ilmu dan agama tampak terpisah, karena di sekolah ada pelajaran umum dan pelajaran agama. Sehingga agama dan umum menjadi hal yang terpisah. Ilmu dan agama terpisah sejak renesans di Barat ketika ilmuwan Barat mengembangkan ilmu dengan spirit melawan doktrin gereja yakni melawan para pemuka agama dan kitab suci Injil. Ilmu dipisah dari (masalah/wilayah) agama.


Aksi

Information

One response

14 01 2009
Sentot Imam

Betul mas Agus Purwanto, ada benarnya sampean perbanyak masuk kampung, seperti kampung saya di Bagong itu. Mohon maaf, orang kampung seperti saya ini biasanya pragmatis dan cenderung menjadikan kesejahteraan duniawi sebagai ukuran utama. Coba kalau pas butuh sumbangan yang didatangi pertama kali adalah orang kaya. Saat qurbanan, yang diserahi formulir qurban adalah orang kaya, saat mau lebaran yang disodori formulir fitrah dan maal adalah orang kaya. Jadi dalam banyak hal peribadatan, kesejahteraan menjadi tolok ukur utama. Nah kalau sampean banyak dolan ke kampung dan menyadarkan warga kampung, mungkin lambat laun akan berubah. Warga kampung seperti saya ini tidak lagi kedonyan. Tapi lebih memperhatikat ayat-ayat kauniyah seperti sampean itu. Jadi hidup kita lebih variatif. Wassalam, mohon maaf di poskan selagi di BNE, QLD. Maaf sekali lagi soalnya sewaktu di kampung gak sempat baca blog njenengan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: