AAS Terselip

10 07 2008

LINTAS MURIA

Suara Merdeka, Senin – 07 Juli 2008
Ponpes Kulon Banon, Mbengkel Moral Mahasiswa ITB

KEGIATAN 24 mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) tepat untuk ditiru kaum intelektual muda saat ini. Mereka jauh-jauh eksodus meninggalkan kampus untuk mendalami ilmu agama di Pondok Pesantren (Ponpes) Kulon Banon, Desa Kajen, Margoyoso, Pati, pada musim liburan kuliah.

Keberadaan mereka di ponpes yang diasuh KH Muhammad Nu’man Thohir itu selama sebulan. Meski tingkat intelektualnya lebih tinggi dibanding dengan ratusan santri reguler, mahasiswa diperlakukan sama.

Aturan dan disiplin yang harus dipatuhi tak berbeda dengan santri kebanyakan. Sejumlah kegiatan keagamaan yang wajib dilakoni seperti shalat lima waktu dan tambahan shalat sunah pada siang dan tengah malam, tak ada toleransi.
Dengan begitu, penampilan mereka hampir mirip dengan para santri kebanyakan. Hanya sejumlah mahasiswa saja yang terlihat berbeda karena tidak mengenakan kopiah saat mengikuti kegiatan ponpes.

Beberapa materi yang diajarkan pada pesantren kilat itu tergolong dasar untuk ukuran santri. Selama nyantri sebulan, mereka hanya diajarkan Ilmu Ushul Fiqh, Tasawuf, dan Tauhid.

Sementara untuk materi tambahan lainnya seperti pengembangan diri dan nasionalisme dibina oleh Ikatan Alumni Keluarga Mahasiswa Islam (IA GAMAIS) ITB.

Jalinan kerja sama antara IA GAMAIS ITB dan Ponpes Kunon Banon dalam program nyantri mahasiswa memang telah berlangsung lama, sehingga santri reguler tak canggung menerima teman baru.

Pola Pembelajaran

Menurut Katib Pengasuh Ponpes, M Faeshol Muzammil, metode yang dipraktikkan bagi para mahasiswa lebih pada diskusi dalam pendalaman materi agama. Ini disesuaikan dengan pola pembelajaran yang diterima di bangku kuliah.

Pendalaman materi lebih efektif mengingat waktu belajarnya juga singkat. Diharapkan modal ilmu agama yang baru sekilas itu bisa memacu mereka untuk mencari lebih jauh lagi pada kesempatan dan tempat lainnya.
Berbagai pengalaman yang dirasakan para mahasiswa ternyata cukup beragam. Namun, pemandangan yang paling melekat pada mereka adalah motivasi para santri yang tak kenal waktu dalam belajar.

ngat yang luar biasa dalam belajar. Di saat kami tidur pada malam hari, santri justru menghabiskan waktunya untuk menghafal materi yang diajarkan kiai,” ujar Ketua Rombongan Mahasiswa, Abdul Rohim.

Dia juga menyadari, pembelajaran di pesantren bisa memperbaiki moral dan akhlak mereka. “Kami tidak hanya belajar agama, tapi juga ponpes mbengkel moral kami.”

Pengalaman itulah yang membuat mereka yakin, produk pesantren tidak bisa dipandang sebelah mata dalam hal ilmu agama. Bila dikombinasikan dengan bidang akademik lainnya bisa memunculkan generasi yang andal dan bermoral sehingga layak menjadi pimpinan bangsa.

Saat mereka di sana, berbagai kegiatan seperti bedah buku juga dilangsungkan. Salah satunya adalah menghadirkan alumni ITB Agus Purwanto DSc (ahli fisika teoritis) yang menulis buku Ayat-ayat Semesta. Buku tersebut memotret sisi-sisi Al-quran yang terlupakan.(M Noor Efendi-76)


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: