Disalahkan : TAKDIR SEJARAH MUHAMMADIYAH

30 08 2011

sejak kemarin saya diminta seorang sahabat untuk membaca tulisan Prof Thomas Jamaluddin tentang pandangan beliau atas hisab Muhammadiyah
karena saya di kampung agak jauh dari akses internet maka saya nunggu balik Surabaya
tetapi di KA saya pun juga digempur atas hisab Muhammadiyah

saya coba beri pandangan tentang hisab dan kriteria yang digunakan Muhammadiyah
(tentu ini versi saya pribadi)

1. hisab Muhammadiyah, NU, dan Persis sekarang telah relatif sama yakni sistem ephemeris makanya hasilnya juga sama
Hilal dengan markaz tanjung kodok Lamongan Jatim akan memberi angka sama meski dihitung oleh orang Banda Aceh

2. Perbedaan ada di kriteria, imkanur rukyat dan wujudul hilal
imkanurrukyat adalah jalan tengah hisab dan rukyat dalam arti visibilitas atau batas minimum hilal dapat dilihat
wujudul hilal dalam teori ilmiah sebenarnya merupakan keadaan khusus dari imkanurrukyat yakni NOL derajat
nah, wujudul hilal bukan lagi hilal dapat dilihat tetapi hilal telah eksis meski tidak dapat dilihat
kriteria imkanurrukyat sendiri cukup variatif dan dinamis
dalam arti banyak angka (untuk tingkat internasional) dan terus berubah

karena belum pastinya angka visibilitas ini (yang sekarang 2 derajat) maka Muhammadiyah berfikir ulang tentang angka ini termasuk esensi hisab

dengan hisab orang dapat melakukan lompatan
1. tidak terpaku dengan kriteria rukyat, karena visibilitas adalah keniscayaan rukyat
2. eksistensi hilal dapat diidentifikasi/diketahui meski tidak dapat dilihat
3. kalender dapat dibuat (dengan rukyat kalender hijriyah tidak dapat dilihat)
4. dengan berbagai kriterianya maka kapan awal bulan dapat ditentukan jauh sebelumnya jadi tidak fair dan tidak adil juga kalau di sidang itsbat (2( Agutsus 2011) ada yang meminta agar awal bulan tidak segera diumumkan

jadi jika disebutkan kriteria hisab Muhammadiyah usang, agak berlebihan dan emosional
kalau wujudul hilal tidak dapat dilihat (yang kurang dari 2) memang ya/benar, tetapi sekali lagi Muhammadiyah tidak merasa perlu (sepengetahuan saya sebagai salah seorang tim hisab Muhammadiyah) untuk dapat melihat hilal tetapi memastikan hilal telah wujud/eksis.
di sinilah pokok perbedaannya.

Masalah aktual idhul fitri 1432 Muhammadiyah jatuh 30 Agustus 2011 dan disalahkan sekelompok orang, memang seolah seperti takdir sejarah Muhammadiyah lahir untuk disalahkan.
Perhatikan saja
dulu, di awal abad 20 ketika Muhammadiyah mengadopsi sistem pendidikan umum Muhammadiyah divonis kafir karena meniru caraa Belanda
dulu juga, Muhammadiyah dituduh mendirikan agama baru ketika kyai Ahmad Dahlan meluruskan arah kiblat.
sekarang, Muhammadiyah diklaim karepe dewe karena tidak sama dengan mainstream

Umat harus dididik, segala sesuatu harus dijelaskan apa adanya secara jujur

sidang itsbat sendiri ada masalah
dengan hisab kita tahu bahwa hilal 29 Agustus 2011 antara 1 dan 2 derajat
dengan kriteria imkanur rukyat 2 derajat maka jika ada pengakuan berhasil merukyat maka akan ditolak seperti tadi (Cakung, Jepara)
nah, jika telah jelas ditolak maka mestinya kita tidak perlu melakukan rukyat karena sia2
untuk apa sekian ratus atau bahkan sekian ribu orang berbondongg merukyat tetapi kemudian hasilnya ditolak jika mengaku berhasil merukyat
mereka khan juga mengeluarkan biaya
ini juga perlu dijekaskan kepada umat

karena sudah tahu, kesaksian ditolak, yang berarti 1 syawwal 1432 adalah 31 Agustus 2011
maka mestinya juga tidak perlu sidang itsbat
informasikan jauh sebelumnya
ada berapa puluh orang bersidang, tentu ini memerlukan biaya
kemubaziran juga harus dihindari di dalam Islam
sidang itsbat juga bukan sidang politik

semua harus dijelaskan secara jernih, jujur dan apa adanya

Fastabiqul khairat
Salam

Agus Purwanto
LaFTiFA ITS


Tindakan

Information

20 tanggapan

30 08 2011
daus

Mohon infonya Pak Agus,
Bagaimana dengan hadis Nabi yang jelas-jelas menyatakan bahwa hilal itu dilihat bukan diyakini keberadaanya.

Jadi, sepaham saya yang awam ini, bila hilal belum bisa dilihat, ya belum bisa jadi dalil bulan baru atau lebaran. Mohon penjelasannya ustadz

1 09 2011
santoso

Untuk Sdr.Daus
Jaman Nabi dlm menentukan waktu sholat lima waktu jg dgn tanda2 alam, misal posisi matahari ketika sholat duhur,ashar,dsb…apakah sdr daus jg saat ini melakukan hal itu ? atau justru cukup pake jam/arloji ?,,,sekedar info (jika blm tahu) bahwa jam itu produk hisab loh…

maaf lahir batin

1 09 2011
santoso

maaf menambahkan, maksud saya penentuan sholat lima waktu berdasar waktu/jam tertentu juga merupakan produk hitungan/hisab…..Sekalipun anda punya jam sholat tp jg mw liat tanda2 alam, ya boleh2 aja….(bisa dibuktikan saat adzan duhur berkumandang, bisa diliat posisi matahari ada dimana, baik anda sedang dalam keadaan WIB, WITA maupun WIT). Sukron

7 09 2011
abu badar

Pak Santoso,
Dalam menentukan awal bulan Ramadhan, hari raya Idul Fitri dan Idul Adha bisa terjadi perbedaan tanggal (oleh karena beda kriteria sebagaimana dijelaskan). Dan ibadah shaum maupun hari raya ini sangat terkait dengan aspek kegiatan sosial kemasyarakatannya. Disini perbedaannya dengan ibadah sholat; selain perbedaan waktunya tidak sampai berbeda tanggal, juga tidak terkait dengan aspek kegiatan sosial kemasyarakatan. Jadi penentuan awal bulan terkait ibadah shaum maupun hari raya, oleh otoritas terpercaya, menjadi penting ditentukan dalam 1 tanggal (sama) dibanding penentuan waktu-waktu ibadah sholat.
Selain itu, hal yang dipersoalkan adalah masalah kriteria bukan masalah hisab dan rukyat.

Maaf lahir batin bila kurang berkenan

22 09 2011
ayatayatsemesta

karena saat itu pakai rukyat, jadi hasilnya adalah terukyat/terlihat atau tidak.

4 09 2011
Pencerah

Kalau berdasarkan hadis harusnya lebaran hari selasa krn ada yg melihat hilal di cakung n jepara. Jaman Rosulullah kan gak ada patokan 2 drajat segala

7 09 2011
abu badar

Berdasarkan hisab, baik yang dilakukan oleh ahli hisab mainstream maupun Muhammadiyah sepakat bahwa hilal mustahil dilihat pada tanggal itu.
Jadi, kalau ada yang dapat melihat, berarti ada 2 kemungkinan: saksi yang diragukan kesaksiannya atau hisab-nya yang salah !! termasuk hisab yang dilakukan oleh ahli hisab Muhammadiyah.
Sama seharusnya disampaikan bahwa pada jaman Rosulullah tidak ada kendaraan bermotor, tapi nyatanya kita tidak dilarang untuk menggunakan produk hasil kemajuan teknologi tersebut.

4 09 2011
fadly

a.. Hadis riwayat Ibnu Umar ra.:
Dari Nabi saw. bahwa beliau menyebut-nyebut tentang bulan Ramadan sambil mengangkat kedua tangannya dan bersabda: Janganlah engkau memulai puasa sebelum engkau melihat hilal awal bulan Ramadan dan janganlah berhenti puasa sebelum engkau melihat hilal awal bulan Syawal. Apabila tertutup awan, maka hitunglah (30 hari). (Shahih Muslim No.1795)

b.. Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:
Rasulullah saw. bersabda: Apabila engkau melihat hilal (awal bulan Ramadan), maka hendaklah engkau memulai puasa. Apabila engkau melihat hilal (awal bulan Syawal), maka hendaklah engkau berhenti puasa. Dan apabila tertutup awan, maka hendaklah engkau berpuasa selama 30 hari. (Shahih Muslim No.1808)

Wassalam,

4 09 2011
udimas 512

menurut saya yg awam ini, nabi hanya sekali puasa 30 hari, selebihnya 29 hari. Nah kalau nabi saja cuma sekali dalam hidupnya, puasa 30 hari, kenapa kita harus berkali-kali. Repot amat..

4 09 2011
eslantia

hari selasa sudah ada yg melihat hilal, knp lebarannya hari rabu?
disengajakah?

http://eslantia.wordpress.com/2011/09/04/jil-jaringan-islam-liberal/

5 09 2011
isa

Saya coba cek situs pemerintah Inggris yang mengawasi kemunculan bulan baru.. rupanya pada tanggal 29 Agustus wilayah indonesia dan sebagian besar negara lainnya (kecuali sebagian amerika) memang belum tampak hilal baik dg mata telanjang atau pun teleskop

http://astro.ukho.gov.uk/moonwatch/nextnewmoon.html

5 09 2011
isa

Hilal yang tampak oleh cakung bukanlah hilal tetapi cahaya dari saturnus yang bisa lebih terang 200x daripada hilal (informasi dari teman yang bekerja di LAPAN)

5 09 2011
5 09 2011
burhan

Penguasa sebenarnya ga peduli….mau hisab atau rukyah….yang penting berhitung untuk tahun 2014….

5 09 2011
burhan

metode rukyah tidak memungkinkan umat islam py kalender…..nah, bagaimana bs menjadi rahmatan lil alamin….kalo kalender aja ga py…apa kata dunia….., metode hisab adalah sebuah keniscayaan….tinggal menunggu ummat menjadi lebih cerdas…..

6 09 2011
arief

Betul juga, yang mungkin harus disepakati adalah kriterianya. Adakah kemungkinan hisab dan rukyat akan ketemu kalau misalnya dikatakan batasan matahari dianggap tenggelam jika sudah mencapai posisi -0,5 atau -2 atau minus berapa derajat, sehingga kriteria pergantian bulannya tidak di nol derajat dan kalau dirukyat hilalnya juga kemungkinan besar bisa terlihat karena sudah berjarak sekian derajat dengan matahari?

7 09 2011
Qahar

dalam hadits sahih tersebut, terdapat kata “melihat”, pertanyaan sy adalah, apakah yg dimaksud melihat harus/wajib/sunnah melihat dgn mata kepala sendiri? bagi saya pribadi, melihat dgn menggunakan alat canggih pun, itu TETAP namanya melihat, bukan berarti harus langsung dgn mata. Menggunakan alat bantu, PUN TETAP namanya melihat. Kan saat itsbat menggunakan alat bantu sprti teropong. Jadi benarlah ketika Muhammadiyah melihat menggunakan perhitungan (hisab): MELIHAT MENGGUNAKAN ILMU. (ini untuk Prof. Thomas dan Djamaluddiniyah: Penganut mainstream 2 derajat).

7 09 2011
abu badar

Pak Qohar, setahu saya Muhammadiyah tidak mendasarkan pada kata melihat maupun “melihat”, melainkan pada kata eksis. Dan setahu saya juga melihat maupun “melihat” tidak sama dengan eksis. CMIIW

7 09 2011
alfatih

sebagai orang awam, saya tertarik untuk menanyakan dasar/landasan Pak Agus atau Muhammadiyah menafsirkan kata melihat didalam hadits tersebut menjadi memastikan hilal telah wujud/eksis ? Atau barangkali ada ayat Al-Qur’an atau Hadits yang menyatakan/mengatakan demikian ?

7 09 2011
umi badar

Untuk Pak Qahar,
Yang jadi persoalan adalah kriteria bukan metode yang digunakan. Karena kedua belah pihak (mainstream maupun Muhammadiyah) sama-sama melakukan/menggunakan metode hisab.
Kriteria tersebut adalah imkanur rukyat (angkanya sementara ditetapkan positif 2 untuk dapat dilihat) dan wujudul hilal (angkanya asal positif meskipun tidak dapat dilihat). Kedua kriteria ini merupakan bagian dari metode hisab.
Jadi, pihak mainstream pun MELIHAT MENGGUNAKAN ILMU.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.